Geldof Top, Federer Better

Seminggu Seminggu terakhir ini saya mendadak jadi setan tivi. Dua hari terakhir, bahkan sampai rela duduk manis seharian, cuma nonton tivi. Dari jam 2 siang kemarin, sambil makan siang saya melototin Live8live concert yang disiarkan langsung BBC dari Hyde Park sampe tengah malam. Bukan main. Buat saya, kapan lagi bisa nonton 'satu paket' U2 nyanyi 'Sgt Peppers' bareng Paul Mc Cartney, live. Melihat Michael Stipe 'REM', penyanyi idola waktu ABG menjeritkan 'Everybody Hurts' bikin saya terkagum-kagum dan nggak mau meninggalkan siaran langsung. Sayang, REM nggak nyanyi salah satu lagu andalannya 'Loosing My Religion'.
STING, dengan 'message in the bottle' dan 'every step you take', plus Madonna yang masih aja cantik dan oke nyanyi 'just like a prayer', membuat saya balik ke 'masa muda'. Penyanyi jaman sekarang, 'Travis' juga muncul dengan sweet song-nya 'Sing Sing'. Juga, ada Robbie Williams yang sadar benar digilai publik Inggris dan sukses jejingkrakan di panggung. Mungkin, penyanyi papan atas Inggris yang nggak naik panggung cuma Oasis. Itupun, konon karena mereka sudah terlanjur dikontrak untuk manggung di Manchester.
Rasanya, sekali nonton bisa bolak-balik ke berbagai jaman sekaligus. Nyaris berteriak saya melihat A-Ha yang di-relay langsung dari Berlin dan Duran-Duran yang live dari Rome. Juga ketika melihat George Michael yang meski cuma muncul dengan satu lagu, tapi cukup membuat senyum-senyum mengingat jaman SMP dan SMA tergila-gila dengan WHAM. Saya juga jadi tahu, bagaimana Pink Floyd yang legendaris ber-reuni, naik panggung dan menyanyi dengan dahsyat, di usia mereka yang sudah gaek. Tengah malam waktu acara ditutup dengan 'Hey Jude', saya sama sekali nggak menyesal duduk manis 10 jam menonton Live8live. Justru menyesal karena nggak sempat beli kaset video untuk merekamnya.
**
Bob Geldof dan Bono memang hebat. Mereka tahu bagaimana sebagai seniman, rock star, mereka adalah idola yang didengar dan punya massa banyak yang bisa jadi kekuatan besar. Juga, mereka sadar bahwa ide dan kata-kata seniman sering dianggap lebih 'genuine' daripada kalau politisi yang ngomong. Anak muda lebih dengar penyanyi rock bicara pentingnya combatting poverty, daripada dengar ajakan dan janji Tony Blair. Aneka rupa orang, termasuk para ABG yang selama ini nggak tahu seperti apa rasanya jadi orang susah di dunia ketiga, menjadi familiar dengan isu kemiskinan. Sangat menghibur dan cukup mencerahkan. 25 juta orang signing petisi dan 200 ribu marching in di Edinburgh bukan jumlah yang sedikit. 'If we make a very loud noise, the G8 leaders might hear us', kata Geldof. Slogan 'don't give charity, we need justice' juga cerdas. Memotong utang negara-negara miskin yang rata-rata pernah jadi koloni negara-negara G8 merupakan bentuk menciptakan keadilan. Geldof dan Bono sukses raising awareness, dan tentu saja, membuat Pink Floyd ber-reuni khusus untuk Live8.
**
Live8 concert membuat saya bolak-balik pencet saluran, supaya bisa juga nonton final putri Wimbledon. Sayang, Davenport yang saya jagokan hari itu, kalah dari Venus William. Wimbledon inilah yang seminggu lebih membuat saya selalu pulang dari sekolah siang hari dan langsung nongkrong di depan TV. Urusan disertasi tentu jadi kalah menarik dibanding melihat Sharapova, Federer ataupun idola baru Inggris, Andy Murray. Di Jakarta, saya nggak tahan kalau harus melek sampai tengah malam untuk menonton siaran langsung. Nggak rugi rasanya stand by di depan TV, melihat atraksi di lapangan yang luar biasa. Pemain baru dan yang senior hampir sama jagonya. Pemain baru yang saya jagokan, Shania Mirza dari India, dan Andy Murray. Dua-duanya 18 tahun, dan penuh semangat. Saya ikut sedih waktu Mirza dikalahkan Serena William. Juga sewaktu publik Inggris sangat down karena Murray akhirnya kalah setelah bermain 5 set di babak ketiga. Bukan karena saya tinggal di Inggris, tapi karena melihat betapa anak baru di tennis mati-matian pontang panting menghadapi pemain unggulan dan berusaha menyenangkan penonton yang berharap ia menang.
Tapi untungnya, jagoan saya, Federer hari ini jadi juara. Sorry to say, lawannya, Andy Roddick memang cuma menang lebih ganteng. Wajar kalau supporter Federer membawa spanduk besar, "Federer is Betterer", hehe..pelesetan yang oke punya. Menonton Federer main benar-benar menyenangkan. Permainannya indah dan 'komplet' kata Jimmy Connors. Menyenangkan sekali melihat ia bisa mengembalikan bola dari hampir semua posisi. Plus, tingkah laku Federer yang 'sweet' dan tenang membuat pemain nomor 1 dunia ini nyaris nggak ada cacatnya di lapangan. Saya bertepuk tangan heboh di depan tivi waktu melihat serve Federer masuk mengakhiri pertandingan yang hanya 3 set saja. Wajar kalau ia kemudian menangis senang seperti anak kecil karena menjadi juara Wimbledon 3 kali berturut-turut seperti Boris Becker, idolanya. He is definitely much much better than anyone else.
