Berjalan Sampai ke Batas


Jakarta, 25 Juni 2000
25 Juni 2000. Mesjid Raya Pondok Indah, lima tahun yang lalu. Rasanya seperti belum lama kami lewati. Kami yang berasal dari dua titik yang berbeda, sepakat untuk mulai berjalan dari satu titik yang sama, bergandengan melewati titik titik yang membentuk garis kehidupan yang baru.
"Hah, kawin? Serius apa becanda lo?,"begitu pertanyaan dari teman-teman saya ketika saya memberitahu akan menikah. "Ngapain kawin..,"sebagian mereka meledek. Saya yang tukang jalan sana sini bareng teman-teman, kok tiba-tiba pacaran serius dan mau nikah, begitu kata mereka. Saya 26 tahun waktu itu. Menikah atau tidak adalah soal pilihan. Dan saya memilih untuk menikah, meski baru beberapa bulan pacaran. Terus terang, waktu itu saya juga belum tahu, seperti apa sih rasanya hidup kalau sudah menikah. Tapi saya tahu satu hal, this is the man that I want to spend my life with..
Setelah menikah, saya belajar banyak. Pelajaran pertama, bagaimana menyalakan kompor. Lalu, bagaimana membuat telur dan sardin untuk sarapan. Pernah saya masak mie instant di rumah mertua, dan adik ipar tersenyum-senyum karena mie sudah saya masukkan sebelum airnya mendidih. Pantasan, mie yang saya masak kok selalu lembek sekali. Suami saya tentu jadi korban masakan 'ancur' istrinya. Dia juga sama parahnya, sama-sama nggak ngerti menyalakan kompor. Untung, kami tinggal di depok yang segala jenis penjual makanan enak ada di sepanjang jalan.
Yang namanya dua orang yang berbeda tinggal serumah, tentu butuh penyesuaian dan saling mengerti disana-sini. Alhamdulillah, lima tahun yang indah. Dan mudah-mudahan akan terus begitu.
Suami saya orang yang supportif terhadap istrinya. Dia tidak pernah melarang saya ini itu. Bahkan ketika saya mendapat beasiswa Chevening untuk master, dia langsung bilang, "Ambil saja. Nanti aku temani kamu,". Saya tahu ia berkorban besar. Meninggalkan karir yang sudah dibangunnya selama ini untuk menemani istri kuliah lagi, tidak mungkin diambil tanpa rasa ikhlas dan jiwa yang besar. Dia percaya selama orang selalu mau mengasah kemampuan dan mau bekerja, tidak perlu takut menghadapi hidup.
Selama setahun tinggal di Inggris, saya kuliah dan ia mengambil kursus sambil kerja, kami jadi punya banyak waktu bersama. Dulu di Jakarta, kesibukan kami di tempat kerja masing-masing, ditambah jadwal keluar kota yang tinggi plus libur di televisi yang nggak jelas, membuat kami jarang bisa libur bersama, bahkan di saat hari raya. Setahun terakhir ini, kami bisa belajar lebih saling mengenal, sekaligus honeymoon kedua, pergi ke berbagai tempat-tempat yang indah, berhenti sejenak dari rutinitas 'gila' kerja di Jakarta. Alhamdulillah, saya merasa, Allah begitu sayang dengan kami sekeluarga.
Lima tahun menikah, saya cuma punya satu kalimat untuk menggambarkannnya, I am married with a marvelous man. Mudah-mudahan, akan selamanya begitu..
