<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=9624837&amp;blogName=me+and+my+story&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLACK&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Farisemut.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Farisemut.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Thursday, March 31, 2005

Visa, bukan Mastercard

Jayus gak judulnya?

Tapi saya memang lagi sebel denger kata 'visa' sebulan ini. Gara-gara visa, kemarin saya keluyuran seharian di London. Padahal dua essay belum beres dan ujian tinggal beberapa hari lagi.

Awalnya, cuma mau mengambil pasport saya di salah satu kedutaan, yang gara-gara kelalaian mereka, saya batal pergi workshop, uang visa application melayang, tanpa visa meski sudah sebulan lebih menunggu. Nggak habis pikir, ada kedutaan negara maju mengaku lupa melihat ada surat dari sekolah saya, yang menerangkan dimana dan kapan worksop berlangsung. Acara sudah selesai, baru mereka sadar, ternyata dokumen saya sudah lengkap. Tapi apa boleh buat, acara sudah selesai, nggak bisa dong saya dikasih visa. Begitu kata mereka. Saya bilang, mereka harus minta maaf, dan harusnya tetap kasih visa, karena bukan kesalahan saya. Jawabannya, tetap no, walaupun reluctantly mereka akhirnya bilang sorry.

Hebatnya lagi, walaupun nomor telepon rumah, mobile, dan juga contact person di sekolah tercantum jelas-jelas, sekalipun mereka nggak pernah menelepon untuk klarifikasi. Benar-benar seperti administrasi di kelurahan Kukusan, tempat saya tinggal di Depok sana.

Sekolah saya pun heran, kok bisa, saya satu-satunya student yang nggak dapat visa, padahal yang lainnya, sama-sama apply, dapat. Waktu saya protes panjang lebar di telepon, si petugas dengan santainya bilang, apa saya mau pasport saya di-pos kan balik. Nggak deh, makasih. Mending saya ambil aja, daripada lama sampainya atau malah, amit-amit, hilang.

"So, what do you want from us now?," kata si petugas visa, sambil menerangkan, saya bisa re-apply tanpa harus mengisi form lagi, tapi harus booking tiket baru, hotel, dll. "Just give me back my pasport please," kata saya cepat. Maaf, sementara ini saya masih sebel, nggak pengen lagi pergi kesana. Saya juga bilang, saya nggak mau ada stempel 'rejected' di pasport saya.

Dasar mbelgedes..!!! Lambang kotanya aja, anak-anak kencing.

Tuesday, March 01, 2005

Kereta Pencabut Nyawa

KRL padatMinggu, 27 Februari 2005. Haryanto, akhirnya pergi. Lelaki 22 tahun itu, 4 hari sebelumnya dilemparkan tanpa perikemanusiaan dari KRL yang sedang melaju di Mangga Besar. Ia dalam perjalanan pulang dari kampus UI Depok, menuju rumahnya di Petak Sembilan, saat perampok menyolek tas yang dikepitnya. Ia mempertahankan tas, yang berisi dokumen kelulusan dari Fakultas Ilmu Komputer UI, tempat ia diwisuda 14 Februari lalu. Perampok yang marah lalu melemparnya dari kereta. Melempar. Sungguh brutal, sadis, keji, biadab. "Ia anak baik, dan tahu orangtuanya susah", kata Heuw Tjoe Sen, ayahnya, mengenang putra sulungnya, yang meraih IP 3,82 itu.

Banyak kisah tragis di angkutan umum Jakarta. Koran ini menulis cerita Asri Nurcahya, seorang perempuan yang kepalanya dikepruk dan diludahi, hanya karena berteriak ada maling di atas bus. Di dalam bus, beberapa lelaki yang naik bak penumpang biasa, sedang memukuli penumpang yang menolak memberi barang.

cctv di busLalu, kata pak polisi, "Kami akan cek informasi itu". Aduh pak, barang barukah ini? Kejahatan model barukah ini? Sudah berbilang tahun angkutan umum adalah ladang bagi pencopet. Baik yang diam-diam merogoh saku, atau setengah terbuka dengan menodong penumpang dibelakang, atau terang-terangan mengaku penjahat yang baru bebas, ingin pulang kampung tak ada ongkos, dan masih mungkin membunuh lagi. Seandainya bapak pernah naik angkutan umum, mungkin akan terpikirkan cara mengatasinya. Misalnya, melakukan survei secara gradual, trayek mana saja yang rawan. Lalu, secara random bis dipasangi kamera pengintai CCTV (Closed Circuit Televison. Begitu sederhana. Supaya rekan-rekan almarhum Haryanto dan Asri Nurcahya tak takut lagi naik angkutan umum.











Kalau untuk menjaga demo, polisi dikerahkan begitu banyak, demi menjaga simbol dan kedaulatan negara, kenapa untuk menjaga masyarakat polisi tidak maksimal. Bukankah, jika rakyat tidak merasa aman di dalam negaranya, itu penghinaan besar kepada negara. Jika mau, lho.