Kereta Pencabut Nyawa
Minggu, 27 Februari 2005. Haryanto, akhirnya pergi. Lelaki 22 tahun itu, 4 hari sebelumnya dilemparkan tanpa perikemanusiaan dari KRL yang sedang melaju di Mangga Besar. Ia dalam perjalanan pulang dari kampus UI Depok, menuju rumahnya di Petak Sembilan, saat perampok menyolek tas yang dikepitnya. Ia mempertahankan tas, yang berisi dokumen kelulusan dari Fakultas Ilmu Komputer UI, tempat ia diwisuda 14 Februari lalu. Perampok yang marah lalu melemparnya dari kereta. Melempar. Sungguh brutal, sadis, keji, biadab. "Ia anak baik, dan tahu orangtuanya susah", kata Heuw Tjoe Sen, ayahnya, mengenang putra sulungnya, yang meraih IP 3,82 itu.Banyak kisah tragis di angkutan umum Jakarta. Koran ini menulis cerita Asri Nurcahya, seorang perempuan yang kepalanya dikepruk dan diludahi, hanya karena berteriak ada maling di atas bus. Di dalam bus, beberapa lelaki yang naik bak penumpang biasa, sedang memukuli penumpang yang menolak memberi barang.
Lalu, kata pak polisi, "Kami akan cek informasi itu". Aduh pak, barang barukah ini? Kejahatan model barukah ini? Sudah berbilang tahun angkutan umum adalah ladang bagi pencopet. Baik yang diam-diam merogoh saku, atau setengah terbuka dengan menodong penumpang dibelakang, atau terang-terangan mengaku penjahat yang baru bebas, ingin pulang kampung tak ada ongkos, dan masih mungkin membunuh lagi. Seandainya bapak pernah naik angkutan umum, mungkin akan terpikirkan cara mengatasinya. Misalnya, melakukan survei secara gradual, trayek mana saja yang rawan. Lalu, secara random bis dipasangi kamera pengintai CCTV (Closed Circuit Televison. Begitu sederhana. Supaya rekan-rekan almarhum Haryanto dan Asri Nurcahya tak takut lagi naik angkutan umum.

Kalau untuk menjaga demo, polisi dikerahkan begitu banyak, demi menjaga simbol dan kedaulatan negara, kenapa untuk menjaga masyarakat polisi tidak maksimal. Bukankah, jika rakyat tidak merasa aman di dalam negaranya, itu penghinaan besar kepada negara. Jika mau, lho.

3 Comments:
kapan ya pemerintah Indonesia serius menghargai setiap nyawa dan kenyamanan rakyatnya?
kalo inget gini, jadi pengen nyusul mbak Ari pindah ke Eropa .... :D
Ka Rhoma, itulah mbak, sebenarnya sih maksud tersirat dari tulisan itu untuk menghubungkan selingkuh dan gelarnya itu, he he he......
This post has been removed by a blog administrator.
bukankah yang dinamakan dengan negara itu ya simbol simbol negara itu tadi ..?
rakyat cuman pelengkap saja saya rasa .. jadi bukan prioritas utama, yang menjadi prioritas adalah para wakil dan simbol simbol itu tadi *suck*
Post a Comment
<< Home