Banyak Jalan Menuju Aceh
Jumat ini ada yang unik di ‘The Hive’, cafe di kampus UEA, Norwich. Selain makanan standar ‘andalan’ Inggris yaitu cold sandwich, fish and chips, crips, croissant dan baguet, hari ini ada menu lumpia vegetarian, lumpia pedas, dadar gulung, klepon, nastar, putri salju, perkedel, dan teh sariwangi. Tentu saja, ini bukan karena chef kafe di kampus mendadak sadar bahwa jajanan Inggris hambar rasanya, dan beralih bikin jajan pasar. Para chef dadakan dari Indonesia, dibawah asuhan Ibu Ima –yang status resminya kandidat Ph.D Politics-- sejak sehari sebelumnya sudah latihan mengoreng dadar hijau untuk dadar gulung, membuat bulatan-bulatan klepon, memarut gula jawa, untuk membuat kue-kue untuk acara Aceh Children Tsunami Appeal yang dibuat mahasiswa Indonesia.
Acara memasak persis seperti ibu-ibu menyiapkan kenduri. Heboh. Maklum, yang betulan jago masak cuma Ima. Kebetulan hari Kamis sudah jatuh Idul Adha di sini, jadi sehabis salat dan kuliah, semua kumpul dan dikaryakan bikin kue. Dapur di dormitory Ima jadi kacau balau. Untunglah, Kimberly, housemate Ima dari Trinidad sangat pengertian. Dia sibuk ikut memarut gula Jawa, menggoreng dan jadi ‘tester’. Bukan cuma students perempuan, tapi yang laki-laki, Jonatan dan Alex, kebagian menggoreng 300 buah lumpia. Tentu saja ada lumpia yang mereka korupsi sambil menggoreng. Tapi nggak apa-apa. Semua senang dan ikhlas. Lewat tengah malam, semua lumpia, dadar gulung, nastar, dan kue putri salju siap.
Jam 5.30 pagi, acara bungkus membungkus dimulai, sambil menyelesaikan bikin klepon. Ada persyaratan dari sekolah, semua makanan yang dibawa harus individually wrapped. Jadilah, sepagian semua sibuk membungkus ratusan kue-kue. Jam 10.30, semua beres. Meja-meja digelar, flyers dibagikan, nampan-nampan kue dijejer. Nggak ketinggalan, teh Sariwangi diseduh, siap bersaing dengan English Breakfast Tea dan Twinnings khas Inggris. “Take as many cakes as you want, and please donate as much as you can..,”. Kue-kue memang nggak untuk dijual, tapi dibagikan kepada siapa saja yang mau menyumbang. Boleh ambil kue berapa saja, boleh sumbang se-rela-nya. Respons dari students lumayan bagus. Mereka senang karena bisa mencicipi makanan khas Indonesia, dan juga teh-nya. Tentu saja, mereka tertarik untuk tanya ini itu, soal kue ini isinya apa, dibuat dari apa, apa ini kue tradisional dari Indonesia. Sinta, Ria, Fanty, Ima, Wardah, dan satu teman dari Philipina, Cathy, jadi penjaga warung yang menjelaskan soal anak-anak Aceh, kemana dana disalurkan dan tentu saja, soal kue mana yang manis, mana yang asin, dan yang pedas.
Setelah jam makan siang, Kimberly, Jonatan, Ratih, dan aku ‘menjemput bola’, jalan-jalan mendatangi teman-teman kuliah, dosen dan staff, sambil membawa kue. Hampir semua langsung mau, karena tahu dengan membeli kue berarti mereka donasi ke Aceh. Apalagi, menurut mereka kuenya enak-enak. Sampai-sampai, setelah selesai makan, ada beberapa yang datang lagi, untuk ‘beli’ kue-kue. Baru tau mereka, jajan pasar Indonesia enak-enak, hehe..Ada juga yang heran, kok sempat-sempatnya students Indonesia bikin kue sebanyak itu. “Did you make all of them?”, hehehe..
Alhamdulillah, jam 3 sore, ‘dagangan’ nyaris habis. Semua setuju untuk ‘tutup warung’. “Mungkin dapet ya 200-an Pound,” kata Ratih. Tapi Jonatan bilang, dia yakin dapat 400 Pound. Langsung deh, hilang rasa capek, waktu lihat 3 box donasi banyak isinya. Sewaktu dihitung, kita semua surprise, 850 Pound (kira-kira Rp.14 juta). Lumayan. Alhamdulillah. Senang sekali rasanya, dengan sedikit yang kita punya, bisa berbuat sesuatu untuk orang lain.

1 Comments:
As salaamu'alaykum..
wah mashaa Allah.. keren bgt..
:) :) may Allah reward u all much...ameen.!!
Post a Comment
<< Home