<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=9624837&amp;blogName=me+and+my+story&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLACK&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Farisemut.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Farisemut.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

Wednesday, December 15, 2004

54 Gloucester Street


It is a small victorian house. Dua lantai dan bercat hijau. Di sepanjang jalan Gloucester, entah kenapa semua rumah bertingkat dua lantai, bergaya victorian dan berukuran kurang lebih sama. Pertama pindah kesini, pertengahan September lalu, rasanya kurang sreg, karena harus share the house dengan dua orang mahasiswa lain. Aku dan suami di lantai atas, menyewa dua kamar. Kamar yang menghadap kebun kecil di belakang rumah, kami pakai untuk ruang tidur. Yang satu lagi, menghadap ke jalan raya dan deretan rumah tetangga, dipakai untuk ruang belajar. Waktu mengetik tugas di depan komputer yang persis menghadap jendela, semua aktivitas para tetangga di seberang terlihat jelas. Lampu-lampu dinyalakan, orang lalu lalang jalan kaki, keluarga menonton TV di living room, anak-anak muda mabuk pulang dari pub dinihari. Semua jadi ‘pemandangan’ unik disela-sela membaca buku, menulis essay atau membaca email. Nggak tau kenapa, kok rasanya seperti di scene film romantis.

Aku dan suami sering duduk berdua sambil tersenyum-senyum melihat ABG yang pulang mabuk sambil mengoceh atau menjerit-jerit bercanda. Kami memang sering cuma berdua saja di rumah. Soalnya, our housemate, Daniel, mahasiswa Ph.D computer science di UEA, jarang sampai di rumah sebelum tengah malam. Dia rajin belajar, dan biang pesta. Seharian dia di kampus, dan dilanjutkan beredar ke berbagai tempat dugem. Tiap hari. Bahkan di akhir pekan. Daniel tinggal di lantai bawah. Dia paling rajin mengurus urusan rumah. Bayar listrik, gas, air, internet, telepon, pajak, semua. Kita tinggal saweran dan terima beres. Yang satu lagi, Vussie, mahasiswa Ph.D Rural Development dari Afrika Selatan. Kalau yang ini, super gila kerja. [‘Work, work, and work..’], begitu selalu semboyannya. Tiap hari sehabis kuliah, dia kerja sebagai cleaner di rumah sakit, dan week-end kerja serabutan. Di Inggris sini bukan hal yang aneh mahasiswa kerja serabutan. Gaji kerja sebulan bisa buat liburan keliling Eropa. Juga bukan barang aneh, mahasiswa gila dugem sekaligus gila belajar seperti Daniel.

Kalau aku dan suami, brrrrr...mana tahan keluar rumah malam-malam untuk dugem.Dinginnn..Membaca buku atau main internet setelah makan malam, jadi kegiatan favorit. Biasanya sih sambil ngopi atau ngeteh dan ngemil kue-kue.

Ternyata, setelah terbiasa, terasa asyik tinggal di Gloucester Street, yang masuk kawasan ‘Golden Triangle’ di Norwich ini. Karena housemates kita Ph.D students, nggak ada deh yang namanya berisik di rumah atau bawa teman untuk minum-minum. Selain itu, 100 meter dari rumah, ada halte bis ke kampus dan city center, yang lewat setiap 10 menit. Praktis kalau mau jalan-jalan. Kalau lapar dan terpaksa nggak masak, ada macam-macam alternatif tempat cari makanan. Kedai ‘fish and chips’ cuma beberapa meter dari rumah. Keluar dari rumah ke arah kanan sekitar 50 meter, ada ‘butcher’ dan toko bunga. Kalau pagi on the way ke kampus, indah sekali lihat bunga-bunga mulai dipajang di depan toko yang persis di hook ini. Di dalam toko, juga dijual macam-macam bumbu dan bahan makanan. Sekilas, toko ini mirip ‘Kem-Chiks’ Kemang dalam bentuk yang lebih kecil.

Yang juga menyenangkan, persis di belakang halte bis, ada toko kue rumahan ‘Breadwinner’ yang bau harumnya...hhmmm. Macam-macam cakes khas Inggris untuk teman minum teh ada disini. Carrot cake, chocolate cake, flapjack, marshmallow cake, teacake, kue jahe, cheesecake, apple struddle dan banyak lagi. Fresh from the oven everyday. Kalau terburu-buru ke kampus dan nggak sempat sarapan, asyik banget beli brownies atau banana walnut cake- nya yang yummy.

Di samping halte, ada supermarket ‘Budgens Local’, semacam Circle-K yang buka sampai malam, ada kantor Bank plus mesin ATM dan Laundry 24 jam. Disini ada mesin cuci dan mesin dryer. Kita biasanya hanya mengeringkan, sedangkan nyucinya di rumah. Gratis he..he.. Chemist, restoran chinese food, toko charity, kafe, dan pub, all within 5 minutes walking distance. A fine place to live deh...I start to love my house di Gloucester. Jadi inget kontrakan tercinta di Margonda, Depok. Sepi dan nyaman, berasa tinggal di desa. Tapi 100 meter ke luar, langsung ketemu berbagai keramaian, macem-macem makanan, toko, dan angkot yang nggak ada habisnya. Juga deket dari kampus. Bedanya, Depok macet dan panas. Norwich, dingin serasa tinggal di kulkas gede dan tertib. Yang kurang, di sini nggak ada warung kaki lima jual pecel lele, ikan bakar, cah kangkung. Padahal, itu penting.

1 Comments:

At 1:14 PM, Blogger pelangi said...

hola! nice to find that you love that place. i can imagine those beauty you share. have a nice life in norwich. i miss it already..patris

 

Post a Comment

<< Home