<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d9624837\x26blogName\x3dme+and+my+story\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLACK\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://arisemut.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://arisemut.blogspot.com/\x26vt\x3d1703839646970530808', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Saturday, July 02, 2005

Geldof Top, Federer Better


Seminggu Seminggu terakhir ini saya mendadak jadi setan tivi. Dua hari terakhir, bahkan sampai rela duduk manis seharian, cuma nonton tivi. Dari jam 2 siang kemarin, sambil makan siang saya melototin Live8live concert yang disiarkan langsung BBC dari Hyde Park sampe tengah malam. Bukan main. Buat saya, kapan lagi bisa nonton 'satu paket' U2 nyanyi 'Sgt Peppers' bareng Paul Mc Cartney, live. Melihat Michael Stipe 'REM', penyanyi idola waktu ABG menjeritkan 'Everybody Hurts' bikin saya terkagum-kagum dan nggak mau meninggalkan siaran langsung. Sayang, REM nggak nyanyi salah satu lagu andalannya 'Loosing My Religion'.

STING, dengan 'message in the bottle' dan 'every step you take', plus Madonna yang masih aja cantik dan oke nyanyi 'just like a prayer', membuat saya balik ke 'masa muda'. Penyanyi jaman sekarang, 'Travis' juga muncul dengan sweet song-nya 'Sing Sing'. Juga, ada Robbie Williams yang sadar benar digilai publik Inggris dan sukses jejingkrakan di panggung. Mungkin, penyanyi papan atas Inggris yang nggak naik panggung cuma Oasis. Itupun, konon karena mereka sudah terlanjur dikontrak untuk manggung di Manchester.

Rasanya, sekali nonton bisa bolak-balik ke berbagai jaman sekaligus. Nyaris berteriak saya melihat A-Ha yang di-relay langsung dari Berlin dan Duran-Duran yang live dari Rome. Juga ketika melihat George Michael yang meski cuma muncul dengan satu lagu, tapi cukup membuat senyum-senyum mengingat jaman SMP dan SMA tergila-gila dengan WHAM. Saya juga jadi tahu, bagaimana Pink Floyd yang legendaris ber-reuni, naik panggung dan menyanyi dengan dahsyat, di usia mereka yang sudah gaek. Tengah malam waktu acara ditutup dengan 'Hey Jude', saya sama sekali nggak menyesal duduk manis 10 jam menonton Live8live. Justru menyesal karena nggak sempat beli kaset video untuk merekamnya.

**

Bob Geldof dan Bono memang hebat. Mereka tahu bagaimana sebagai seniman, rock star, mereka adalah idola yang didengar dan punya massa banyak yang bisa jadi kekuatan besar. Juga, mereka sadar bahwa ide dan kata-kata seniman sering dianggap lebih 'genuine' daripada kalau politisi yang ngomong. Anak muda lebih dengar penyanyi rock bicara pentingnya combatting poverty, daripada dengar ajakan dan janji Tony Blair. Aneka rupa orang, termasuk para ABG yang selama ini nggak tahu seperti apa rasanya jadi orang susah di dunia ketiga, menjadi familiar dengan isu kemiskinan. Sangat menghibur dan cukup mencerahkan. 25 juta orang signing petisi dan 200 ribu marching in di Edinburgh bukan jumlah yang sedikit. 'If we make a very loud noise, the G8 leaders might hear us', kata Geldof. Slogan 'don't give charity, we need justice' juga cerdas. Memotong utang negara-negara miskin yang rata-rata pernah jadi koloni negara-negara G8 merupakan bentuk menciptakan keadilan. Geldof dan Bono sukses raising awareness, dan tentu saja, membuat Pink Floyd ber-reuni khusus untuk Live8.

**

Live8 concert membuat saya bolak-balik pencet saluran, supaya bisa juga nonton final putri Wimbledon. Sayang, Davenport yang saya jagokan hari itu, kalah dari Venus William. Wimbledon inilah yang seminggu lebih membuat saya selalu pulang dari sekolah siang hari dan langsung nongkrong di depan TV. Urusan disertasi tentu jadi kalah menarik dibanding melihat Sharapova, Federer ataupun idola baru Inggris, Andy Murray. Di Jakarta, saya nggak tahan kalau harus melek sampai tengah malam untuk menonton siaran langsung. Nggak rugi rasanya stand by di depan TV, melihat atraksi di lapangan yang luar biasa. Pemain baru dan yang senior hampir sama jagonya. Pemain baru yang saya jagokan, Shania Mirza dari India, dan Andy Murray. Dua-duanya 18 tahun, dan penuh semangat. Saya ikut sedih waktu Mirza dikalahkan Serena William. Juga sewaktu publik Inggris sangat down karena Murray akhirnya kalah setelah bermain 5 set di babak ketiga. Bukan karena saya tinggal di Inggris, tapi karena melihat betapa anak baru di tennis mati-matian pontang panting menghadapi pemain unggulan dan berusaha menyenangkan penonton yang berharap ia menang.

Tapi untungnya, jagoan saya, Federer hari ini jadi juara. Sorry to say, lawannya, Andy Roddick memang cuma menang lebih ganteng. Wajar kalau supporter Federer membawa spanduk besar, "Federer is Betterer", hehe..pelesetan yang oke punya. Menonton Federer main benar-benar menyenangkan. Permainannya indah dan 'komplet' kata Jimmy Connors. Menyenangkan sekali melihat ia bisa mengembalikan bola dari hampir semua posisi. Plus, tingkah laku Federer yang 'sweet' dan tenang membuat pemain nomor 1 dunia ini nyaris nggak ada cacatnya di lapangan. Saya bertepuk tangan heboh di depan tivi waktu melihat serve Federer masuk mengakhiri pertandingan yang hanya 3 set saja. Wajar kalau ia kemudian menangis senang seperti anak kecil karena menjadi juara Wimbledon 3 kali berturut-turut seperti Boris Becker, idolanya. He is definitely much much better than anyone else.

Saturday, June 25, 2005

Berjalan Sampai ke Batas


Jakarta, 25 Juni 2000

 

25 Juni 2000. Mesjid Raya Pondok Indah, lima tahun yang lalu. Rasanya seperti belum lama kami lewati. Kami yang berasal dari dua titik yang berbeda, sepakat untuk mulai berjalan dari satu titik yang sama, bergandengan melewati titik titik yang membentuk garis kehidupan yang baru.


"Hah, kawin? Serius apa becanda lo?,"begitu pertanyaan dari teman-teman saya ketika saya memberitahu akan menikah. "Ngapain kawin..,"sebagian mereka meledek. Saya yang tukang jalan sana sini bareng teman-teman, kok tiba-tiba pacaran serius dan mau nikah, begitu kata mereka. Saya 26 tahun waktu itu. Menikah atau tidak adalah soal pilihan. Dan saya memilih untuk menikah, meski baru beberapa bulan pacaran. Terus terang, waktu itu saya juga belum tahu, seperti apa sih rasanya hidup kalau sudah menikah. Tapi saya tahu satu hal, this is the man that I want to spend my life with..


Setelah menikah, saya belajar banyak. Pelajaran pertama, bagaimana menyalakan kompor. Lalu, bagaimana membuat telur dan sardin untuk sarapan. Pernah saya masak mie instant di rumah mertua, dan adik ipar tersenyum-senyum karena mie sudah saya masukkan sebelum airnya mendidih. Pantasan, mie yang saya masak kok selalu lembek sekali. Suami saya tentu jadi korban masakan 'ancur' istrinya. Dia juga sama parahnya, sama-sama nggak ngerti menyalakan kompor. Untung, kami tinggal di depok yang segala jenis penjual makanan enak ada di sepanjang jalan.


Yang namanya dua orang yang berbeda tinggal serumah, tentu butuh penyesuaian dan saling mengerti disana-sini. Alhamdulillah, lima tahun yang indah. Dan mudah-mudahan akan terus begitu.


Suami saya orang yang supportif terhadap istrinya. Dia tidak pernah melarang saya ini itu. Bahkan ketika saya mendapat beasiswa Chevening untuk master, dia langsung bilang, "Ambil saja. Nanti aku temani kamu,". Saya tahu ia berkorban besar. Meninggalkan karir yang sudah dibangunnya selama ini untuk menemani istri kuliah lagi, tidak mungkin diambil tanpa rasa ikhlas dan jiwa yang besar. Dia percaya selama orang selalu mau mengasah kemampuan dan mau bekerja, tidak perlu takut menghadapi hidup.


Selama setahun tinggal di Inggris, saya kuliah dan ia mengambil kursus sambil kerja, kami jadi punya banyak waktu bersama. Dulu di Jakarta, kesibukan kami di tempat kerja masing-masing, ditambah jadwal keluar kota yang tinggi plus libur di televisi yang nggak jelas, membuat kami jarang bisa libur bersama, bahkan di saat hari raya. Setahun terakhir ini, kami bisa belajar lebih saling mengenal, sekaligus honeymoon kedua, pergi ke berbagai tempat-tempat yang indah, berhenti sejenak dari rutinitas 'gila' kerja di Jakarta. Alhamdulillah, saya merasa, Allah begitu sayang dengan kami sekeluarga.


Lima tahun menikah, saya cuma punya satu kalimat untuk menggambarkannnya, I am married with a marvelous man. Mudah-mudahan, akan selamanya begitu..

Saturday, April 02, 2005

Gule Kambing Bunderan Grosvenor

Selesai urusan visa, sekarang nikmati jalan-jalan. Cari makanan enak, trus jalan-jalan ke Oxford Street. Mau ke makan bebek peking di Bayswater, males ngantri takut makin laper. Akhirnya ke kedubes Indonesia, di Grosvenor Square. Sampai disana, makanan belum siap. Sambil menunggu, Ratih bilang, mudah-mudahan menunya pempek. Fanty pengen menunya bakso. Ternyata surprise, menunya Gule Kambing, Lontong, Sambel, Bakwan Udang, Kerupuk dan Acar..Enaaakkk. Langsung saya bahagia. Sambil makan, kita sibuk mengagumi hasil masakan Mbak Koki yang bukan orang Indonesia.


Selesai makan, kita 'tawaf' keliling central London. Entah kenapa, saya selalu tertarik untuk lagi dan lagi, keluyuran di sekitar Parliament Building yang berdiri anggun di sebelah sungai Thames. Jadi, kesanalah kita. Jalan kaki.


Sebelum sampai kesana, kita harus melewati Trafalgar Square yang hari itu dipenuhi banyak sekali turis, sampai patung singa-nya penuh diduduki orang yang berfoto. Hari itu saya nggak terlalu berminat masuk ke National Gallery Museum, karena sedang di-refurbish. Dari Trafalgar kita menyeberang melewati kantor Tony Blair yang sedang ramai, banyak mobil parkir dan orang berkerumun, entah ada acara apa.


Di depan Parliament Building dan Big Ben, yang berhadapan dengan Westminster Abbey, saya, Ratih dan Fanty ngobrol, gimana kalau sekali-sekali kita ikut tur masuk ke Abbey. Siapa tau cerita-cerita di Da Vinci Code, soal makam, dan petunjuk Holy Grail bisa kita lihat. Sayang, ternyata jadwal tur sudah selesai hari itu. Jadilah kita ketawa-ketawa..bikin foto dengan gaya ancurr, di depan Abbey.


Kecapean jalan kaki, kita menyeberang lagi ke arah Parliament Building, dan duduk-duduk di taman sampingnya yang menghadap sungai Thames. Saya ingat tepian sungai Mahakam di Samarinda, yang juga ada tempat duduk-duduk untuk lihat perahu besar lalu lalang. Tapi menurut saya, Mahakam masih lebih lebar dibanding Thames.


Bosan dan dingin duduk-duduk, kita sepakat untuk naik tube ke Harrods di Knightsbridge. Di dalamnya, kita sibuk nyela-nyela harga handuk yang 300 pound, dan baju-baju ribuan pound. Baju-baju itu mungkin 'jajanan' Victoria Beckham, hehe..Satu baju, bisa untuk hidup sebulan mahasiswa.


Tapi di Harrods ada hal yang nggak boleh lupa dibeli. Krispy Kreme donat. Kalau ini, beli lusinan pun bisa karena harganya nggak gila. Suvenir, pernak- pernik kecil, masih lumayan masuk akal harganya. Yang gila mahalnya ya memang barang-barang branded.


Setelah keluyuran di toko buku di salah satu lantainya, kita benar-benar capek. Naik tube lagi, ke China Town. Tujuan, cari tempat makan karena si bungsu Ratih lapar, sekaligus belanja bahan makanan Indonesia. Sebetulnya, kita pengen bebek peking. Tapi karena kesal dengan Chinese Restaurant yang waitressnya nggak ramah dan memaksa masing2 kita memesan porsi besar yang sudah ditentukan harganya, kita cabut ke restoran Malaysia. Menunya nikmat luar biasa, cah kangkung belacan dan sambal udang king prawn. Ah senang...kesal saya gara-gara visa terobati jalan-jalan dan makan enak. Tapi kasian si Bang Latief gak bisa ikut, jadi nggak bisa makan enak rame-rame deh.

Capek, kenyang dan ngantuk, jam 9 kurang, akhirnya kita pulang. What a long day..Pheww, besok bikin essay lagi...

Thursday, March 31, 2005

Visa, bukan Mastercard

Jayus gak judulnya?

Tapi saya memang lagi sebel denger kata 'visa' sebulan ini. Gara-gara visa, kemarin saya keluyuran seharian di London. Padahal dua essay belum beres dan ujian tinggal beberapa hari lagi.

Awalnya, cuma mau mengambil pasport saya di salah satu kedutaan, yang gara-gara kelalaian mereka, saya batal pergi workshop, uang visa application melayang, tanpa visa meski sudah sebulan lebih menunggu. Nggak habis pikir, ada kedutaan negara maju mengaku lupa melihat ada surat dari sekolah saya, yang menerangkan dimana dan kapan worksop berlangsung. Acara sudah selesai, baru mereka sadar, ternyata dokumen saya sudah lengkap. Tapi apa boleh buat, acara sudah selesai, nggak bisa dong saya dikasih visa. Begitu kata mereka. Saya bilang, mereka harus minta maaf, dan harusnya tetap kasih visa, karena bukan kesalahan saya. Jawabannya, tetap no, walaupun reluctantly mereka akhirnya bilang sorry.

Hebatnya lagi, walaupun nomor telepon rumah, mobile, dan juga contact person di sekolah tercantum jelas-jelas, sekalipun mereka nggak pernah menelepon untuk klarifikasi. Benar-benar seperti administrasi di kelurahan Kukusan, tempat saya tinggal di Depok sana.

Sekolah saya pun heran, kok bisa, saya satu-satunya student yang nggak dapat visa, padahal yang lainnya, sama-sama apply, dapat. Waktu saya protes panjang lebar di telepon, si petugas dengan santainya bilang, apa saya mau pasport saya di-pos kan balik. Nggak deh, makasih. Mending saya ambil aja, daripada lama sampainya atau malah, amit-amit, hilang.

"So, what do you want from us now?," kata si petugas visa, sambil menerangkan, saya bisa re-apply tanpa harus mengisi form lagi, tapi harus booking tiket baru, hotel, dll. "Just give me back my pasport please," kata saya cepat. Maaf, sementara ini saya masih sebel, nggak pengen lagi pergi kesana. Saya juga bilang, saya nggak mau ada stempel 'rejected' di pasport saya.

Dasar mbelgedes..!!! Lambang kotanya aja, anak-anak kencing.

Tuesday, March 01, 2005

Kereta Pencabut Nyawa

KRL padatMinggu, 27 Februari 2005. Haryanto, akhirnya pergi. Lelaki 22 tahun itu, 4 hari sebelumnya dilemparkan tanpa perikemanusiaan dari KRL yang sedang melaju di Mangga Besar. Ia dalam perjalanan pulang dari kampus UI Depok, menuju rumahnya di Petak Sembilan, saat perampok menyolek tas yang dikepitnya. Ia mempertahankan tas, yang berisi dokumen kelulusan dari Fakultas Ilmu Komputer UI, tempat ia diwisuda 14 Februari lalu. Perampok yang marah lalu melemparnya dari kereta. Melempar. Sungguh brutal, sadis, keji, biadab. "Ia anak baik, dan tahu orangtuanya susah", kata Heuw Tjoe Sen, ayahnya, mengenang putra sulungnya, yang meraih IP 3,82 itu.

Banyak kisah tragis di angkutan umum Jakarta. Koran ini menulis cerita Asri Nurcahya, seorang perempuan yang kepalanya dikepruk dan diludahi, hanya karena berteriak ada maling di atas bus. Di dalam bus, beberapa lelaki yang naik bak penumpang biasa, sedang memukuli penumpang yang menolak memberi barang.

cctv di busLalu, kata pak polisi, "Kami akan cek informasi itu". Aduh pak, barang barukah ini? Kejahatan model barukah ini? Sudah berbilang tahun angkutan umum adalah ladang bagi pencopet. Baik yang diam-diam merogoh saku, atau setengah terbuka dengan menodong penumpang dibelakang, atau terang-terangan mengaku penjahat yang baru bebas, ingin pulang kampung tak ada ongkos, dan masih mungkin membunuh lagi. Seandainya bapak pernah naik angkutan umum, mungkin akan terpikirkan cara mengatasinya. Misalnya, melakukan survei secara gradual, trayek mana saja yang rawan. Lalu, secara random bis dipasangi kamera pengintai CCTV (Closed Circuit Televison. Begitu sederhana. Supaya rekan-rekan almarhum Haryanto dan Asri Nurcahya tak takut lagi naik angkutan umum.











Kalau untuk menjaga demo, polisi dikerahkan begitu banyak, demi menjaga simbol dan kedaulatan negara, kenapa untuk menjaga masyarakat polisi tidak maksimal. Bukankah, jika rakyat tidak merasa aman di dalam negaranya, itu penghinaan besar kepada negara. Jika mau, lho.

Tuesday, February 15, 2005

Damai di Helsinki, Damai di Pidie

Damai di PIDIESebentar lagi hari berganti. Aku belum bisa tidur. Bukan karena insomnia. Tapi sebuah paper yang harus dipresentasikan besok, belum beres. Suntuk, mumet. Iseng aku buka email. Tak ada yang ramai. Gimana dengan email baang. Ada imel dari Pak Frans, bekas bosnya di Jakarta: "Lae, tulisan istri di Kompas, bagus tuh. Proficiat".

Panglima GAM bertemu utusan Gus DurAku bangunkan bang Latief. Lalu kita buka situs Kompas. Alhamdulillah, setelah 2 pekan dimunculkan juga. Ini bukan soal kebanggaan, nama keluar di media ternama. Tapi soal ide, agar kasus Aceh yang sudah mendera banyak orang ini segera selesai, lewat dialog.

Ini bukan ide baru. Sudah banyak elemen yang mencoba upaya ini. Bahkan Sekretaris Negara era Gus Dur, Bondan Gunawan berlebaran bersama dengan Panglima GAM, almarhum Abdullah Syafii. (Bang Latief, makasih untuk dorongan semangat, ide, data, dan editannya)

GAM dan TNI berdamailahJadi semuanya tergantung niat baik. Apakah mau terus berperang, tapi hanya menghasilkan nisan-nisan baru, atau berdialog seperti layaknya orang berakal. Kata Presiden Perancis: "War is always the admission of defeat, and is always the worst of solutions". (Perang adalah pengakuan atas kalahnya dialog dan akal sehat.)

Selengkapnya, baca KOMPAS

Friday, January 21, 2005

Banyak Jalan Menuju Aceh

Jumat ini ada yang unik di ‘The Hive’, cafe di kampus UEA, Norwich. Selain makanan standar ‘andalan’ Inggris yaitu cold sandwich, fish and chips, crips, croissant dan baguet, hari ini ada menu lumpia vegetarian, lumpia pedas, dadar gulung, klepon, nastar, putri salju, perkedel, dan teh sariwangi. Tentu saja, ini bukan karena chef kafe di kampus mendadak sadar bahwa jajanan Inggris hambar rasanya, dan beralih bikin jajan pasar. Para chef dadakan dari Indonesia, dibawah asuhan Ibu Ima –yang status resminya kandidat Ph.D Politics-- sejak sehari sebelumnya sudah latihan mengoreng dadar hijau untuk dadar gulung, membuat bulatan-bulatan klepon, memarut gula jawa, untuk membuat kue-kue untuk acara Aceh Children Tsunami Appeal yang dibuat mahasiswa Indonesia.

Acara memasak persis seperti ibu-ibu menyiapkan kenduri. Heboh. Maklum, yang betulan jago masak cuma Ima. Kebetulan hari Kamis sudah jatuh Idul Adha di sini, jadi sehabis salat dan kuliah, semua kumpul dan dikaryakan bikin kue. Dapur di dormitory Ima jadi kacau balau. Untunglah, Kimberly, housemate Ima dari Trinidad sangat pengertian. Dia sibuk ikut memarut gula Jawa, menggoreng dan jadi ‘tester’. Bukan cuma students perempuan, tapi yang laki-laki, Jonatan dan Alex, kebagian menggoreng 300 buah lumpia. Tentu saja ada lumpia yang mereka korupsi sambil menggoreng. Tapi nggak apa-apa. Semua senang dan ikhlas. Lewat tengah malam, semua lumpia, dadar gulung, nastar, dan kue putri salju siap.

Jam 5.30 pagi, acara bungkus membungkus dimulai, sambil menyelesaikan bikin klepon. Ada persyaratan dari sekolah, semua makanan yang dibawa harus individually wrapped. Jadilah, sepagian semua sibuk membungkus ratusan kue-kue. Jam 10.30, semua beres. Meja-meja digelar, flyers dibagikan, nampan-nampan kue dijejer. Nggak ketinggalan, teh Sariwangi diseduh, siap bersaing dengan English Breakfast Tea dan Twinnings khas Inggris. “Take as many cakes as you want, and please donate as much as you can..,”. Kue-kue memang nggak untuk dijual, tapi dibagikan kepada siapa saja yang mau menyumbang. Boleh ambil kue berapa saja, boleh sumbang se-rela-nya. Respons dari students lumayan bagus. Mereka senang karena bisa mencicipi makanan khas Indonesia, dan juga teh-nya. Tentu saja, mereka tertarik untuk tanya ini itu, soal kue ini isinya apa, dibuat dari apa, apa ini kue tradisional dari Indonesia. Sinta, Ria, Fanty, Ima, Wardah, dan satu teman dari Philipina, Cathy, jadi penjaga warung yang menjelaskan soal anak-anak Aceh, kemana dana disalurkan dan tentu saja, soal kue mana yang manis, mana yang asin, dan yang pedas.

Setelah jam makan siang, Kimberly, Jonatan, Ratih, dan aku ‘menjemput bola’, jalan-jalan mendatangi teman-teman kuliah, dosen dan staff, sambil membawa kue. Hampir semua langsung mau, karena tahu dengan membeli kue berarti mereka donasi ke Aceh. Apalagi, menurut mereka kuenya enak-enak. Sampai-sampai, setelah selesai makan, ada beberapa yang datang lagi, untuk ‘beli’ kue-kue. Baru tau mereka, jajan pasar Indonesia enak-enak, hehe..Ada juga yang heran, kok sempat-sempatnya students Indonesia bikin kue sebanyak itu. “Did you make all of them?”, hehehe..

Alhamdulillah, jam 3 sore, ‘dagangan’ nyaris habis. Semua setuju untuk ‘tutup warung’. “Mungkin dapet ya 200-an Pound,” kata Ratih. Tapi Jonatan bilang, dia yakin dapat 400 Pound. Langsung deh, hilang rasa capek, waktu lihat 3 box donasi banyak isinya. Sewaktu dihitung, kita semua surprise, 850 Pound (kira-kira Rp.14 juta). Lumayan. Alhamdulillah. Senang sekali rasanya, dengan sedikit yang kita punya, bisa berbuat sesuatu untuk orang lain.